Slamet Yuliono

Menjadi Manusia Pembelajar Baru, dengan segala kekurangannya. ...

Selengkapnya
Chapter (2) - Membangun Jati Diri (1) -
https://www.qureta.com/post/persekusi-pelajaran-berharga-yang-tidak-dihargai

Chapter (2) - Membangun Jati Diri (1) -

Menjadi Diri Sendiri dengan Memberangus Kebencian

Oleh: Slamet Yuliono *)

HAMPIR di setiap kegiatan diklat atau pelatihan motivasi yang muncul dari berakhirnya kegiatan bagi peserta adalah kemauan menambah dan mengasah khasanah keilmuan agar menjadi lebih baik dan terampil. Atau jawaban 'ekstrim' ini mah hanya kegiatan rutin biasa dan resiko yang harus dijalani sebagai pegawai, untuk selanjutnya lewat tak berbekas. Jarang kita menemukan jawaban ideal, setelah mengikuti kegiatan semacam ini, lalu menginstropeksi diri untuk menjadi diri sendiri agar lebih dewasa dalam bersikap.

Menjadi diri sendiri agar lebih paham atas kekurangan, menjadi diri untuk paham atas kelebihan yang kita miliki, dan menjadi diri untuk tidak iri atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh orang lain. Atau menjadi diri untuk bersikap tidak mengoreksi, tidak mencari, dan tidak menilai kemampuan orang lain setelah khasanah keilmuan kita bertambah menjadi catatan penting bagi kita.

Sadar diri, bahwa belum tentu kita mampu menjalankan pekerjaan dengan baik kalau kita telah atau diberi amanah untuk menjalankan kegiatan seperti orang lain yang kita nilai. Bisa jadi nilai 'idealis' yang kita punya saat masih belum berkuasa akan tergerus dan ikut larut dalam keterpurukan yang lebih dalam.

Banyak contoh dan peristiwa yang bisa kita jadikan ibrah dari sosok-sosok pilihan yang di penilaian awal mereka terlihat meyakinkan dan seolah menjadi orang 'suci'. Tetapi setelah mendapat amanah dan posisi menggiurkan ternyata malah khianat, setelah menduduki jabatan bertambah rakus, dan sikap koruptifnya malah lebih parah dan orang yang digantikan.

Belajar dari beragam kisah dan pengalaman sudah saatnya kita sadar diri. Sudah saatnya kita mawas diri dan merenung diri. Jangan umbar ungkapan dan menuruti nafsu dan jiwa serakah dalam diri, percayakan dan bersandarlah kepada Ilahi atas kekurangan dan kemampuan yang kita miliki. Jangan paksakan diri dari sosok ideal yang sudah ada dalam diri ini kalau mental dan jiwa tidak siap.

Ukur kualitas diri, hingga siap dan mampu menjadi diri sendiri. Tidak selalu menjauhkan diri dari beragam gebyar dunia yang semakin komplek. Tetap bergabung dan bergaul dengan siapa saja apa adanya, tanpa memberikan penilaian terhadap orang lain secara berlebihan. Berilah kritik sewajarnya.

Termasuk penilaian orang lain kepada kita, tetap menerima semua keluhan dan curahan hati orang lain. Menerima saran dan kritik dari pihak manapun juga komunitas yang ada dalam kehidupan keseharian kita (grup WA, face book, dll) bukan hal tabu dan sia-sia.

Sandarkan diri kepada Ilahi, bila kita benar-benar mendapat berkah dan menerima amanah menjadi seorang pemimpin atau menempati kedudukan setingkat lebih tinggi. Hilangkan sifat “adigang - adigung - adiguno” dan pupuk sifat rendah hati, selalu terbuka dalam menjalankan amanah.

Alangkah eloknya perjalanan hidup kita di dunia bila semua bersandar pada jalan Ilahi dan kembalikan semua amanah atas nurani yang ada di diri sendiri. Tolak dan hindari posisi dan jabatan kalau itu bertentangan dengan jadi diri kita. Tanggalkan jabatan dan posisi yang kita emban kalau itu tidak sesuai dengan hati nurani dan kemampuan diri sendiri.

Jangan serakah dan sok memiliki kemampuan dengan beragam alasan. Kita dipercaya, kita dberi amanah, dan kita menjadi orang terpilih, ini semua adalah semu dan sementara. Jadilah diri sendiri dengan keunikan yang kita miliki. Jangan paksakan diri karena ungkapan ‘mumpung’ ada kesempatan dan akhirnya menganggap orang lain tidak mampu.

*****

Sikap ada maunya dan lupa akan jati diri inilah yang berdampak pada menurunnya karakter diri dan berubah pada ego. Dan kalau sudah berbicara ego, maka muncullah istilah benci.

Benci adalah kata yang kuat di akhir-akhir ini. Dimana-mana kita menemukan frase “benci”. Di tengah-tengah sosial ke­masya­rakatan kita, di sekolah, di ins­tansi pemerintahan, di meja makan, apalagi di media sosial.

Padahal saat kita dilahir, hati dan jiwa ibarat “kertas kosong” tak ber­noda. Mau dibuat warna dan lukisan apa saja kertas kosong itu tergantung lingkungan se­kitar, keluarga, dan pernak pernik sekolah sebagai membentuk pribadinya.

Seiring berjalannya waktu, kehidupanpun diisi asumsi dan opini tentang jiwa yang bebas dan dikombinasikan dengan ko­drat­nya. Dari diajarkan me­ngasihi sesama manusia melalui ajaran tetua kita. Diajarkan untuk menghor­mati yang lebih tua oleh guru di sekolah, kita diajarkan untuk mengikuti ajaran, nilai serta norma yang berlaku di ling­ku­ngan tempat tinggal kita.

Akan tetapi, selain kita menda­patkan pe­ngajaran tentang yang baik-baik, kita juga dengan sen­dirinya menemukan satu kata yang tak akan lekang dalam pribadi ma­nusia dan mendarah daging yaitu egois dan kebencian.

Kita mulai belajar membenci nasihat-na­sihat yang kerap disampaikan oleh orang­tua. Kita mulai belajar mem­benci orang lain yang mengendarai mobil yang bagus. Kita belajar membenci orang lain yang mengenakan pakaian yang bagus. Kita belajar membenci bocah manja yang menolak belajar. Kita belajar membenci anak kaya som­bong di sekolah yang memiliki beagam kelebihan. Atau kita belajar membenci si kutu buku yang gemar membaca buku ka­rena pengetahuannya jauh lebih baik ketimbang pengetahuan yang kita miliki.

Berlanjut dengan kita be­lajar membenci guru yang menilai hasil pekerjaan kita yang buruk. Ketika kita tumbuh dewasa, kita mulai membenci orang-orang yang tidak memiliki pemikiran yang sejalan dengan kita. Kita belajar un­tuk membenci sistem dan kita juga belajar untuk membenci sega­lanya.

Padahal setiap masing-masing agama me­ngajarkan kebaikan dan kasih sayang bu­kan kebencian. Pemahaman nilai-nilai ke­baikan, gagasan, perilaku dan keper­ca­yaan yang didapatkan dari agama justru di­salahartikan. Kebencian itu kemudian men­jalar dan merasuki pikiran yang lain. In­doktrinasi yang keliru adalah kunci dari semua kebencian ini: Semai keben­cian, tuai kebencian!

Seharusnya kita berhenti dan bertanya dalam benak masing-masing, “apakah saya benar-benar harus menebar benih kebencian atau dapatkah saya mem­biarkannya? Apakah pendapat me­re­ka menyakiti perasaan saya se­hingga saya harus menebar keben­cian dan dendam?”

Kita bisa hidup har­monis jika kita memilih untuk me­na­han diri kita untuk tidak mem­benci orang lain tanpa alasan yang jelas. Mes­kipun bagi sebagian orang, mung­kin itu sulit.

Akhirnya, penulis teringat ucapan Martin Luther King, dengan kata: “…Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that…” - Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan: hanya cahaya yang bisa melakukannya. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian: hanya cinta yang bisa melakukannya -

*) SLAMET YULIONO, Pembelajar - Arema - ‘Nyantrik’ di SMP Neg 1 Turen

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Filosofinya sangat memyentuh hati Pak...

13 Sep
Balas

Belajar realistis Bunda. Salam Kenal ....

13 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali