Slamet Yuliono

Menjadi Manusia Pembelajar Baru, dengan segala kekurangannya. ...

Selengkapnya
Chapter (3) - Mensyukuri Anugerah Ilahi (1) -
https://flpsuroboyo.wordpress.com/2016/10/06/mengingat-mati-tanda-mau-mati/

Chapter (3) - Mensyukuri Anugerah Ilahi (1) -

Menjadi Manusia Baru dengan Selalu Mengingat Kematian

Oleh: Slamet Yuliono *)

KEJADIAN yang penulis alami Kamis, 30 Agustus 2018 (pekan lalu) seolah menjadi pengingat khususnya untuk penulis. Bermula dari sepeda motor penulis yang menyalip kendaraan dengan kecepatan tinggi. Diantara kendaraan yang penulis salip dan berhadapan dengan kendaraan yang ada di depan, tiba-tiba ban belakang kendaraan meletus. Beruntung dan rasa syukur mendalam penulis ucapkan kepada Ilahi Robbi. Antara kepanikan dan tetap harus konsentrasi mengendalikan ‘oleng’nya kendaraan ternyata mampu penulis atasi. Sekali lagi, dengan mengucap syukur Alhamdulillahirobbil ’alamiin, nyawa penulis masih diselamatkan oleh Allah dari kecelakaan dan terlepas dari balak. Kejadian langka yang penulis alami ini sudah di luar nalar manusia, dan tak terjangkau alam pikiran. Yang ada dalam pikiran ini mampukah penulis mengatasi masalah dan nyawa masih tetap berada dalam raga ini.

Sekali lagi antara percaya dan tidak, nalar manusia sebagai insan terbaik di muka bumi tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan kuasa Ilahi. Hidup, sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, dan segala yang ada di muka bumi ini tidak lepas dari kendali-Nya.

Peristiwa dan kejadian semacam ini, penulis yakini tentunya juga pernah dialami mayoritas sejawat di grup ini, bahkan lebih dari apa yang dialami penulis sehingga harus masuk rumah sakit. Kemudian dirawat untuk hitungan hari atau bahkan bisa berbulan-bulan di Rumah Sakit.

Sebagai insan yang tidak mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan diri kecuali hanya karena pertolongan Allah setidaknya kejadian demi kejadian semacam ini bisa dijadikan pengingat dan pelajaran berharga. Pelajaran tak ternilai harganya, termasuk nyawa yang berada dalam raga ini.

Dalam renungan dan atas ‘keajaiban’ ini. Penulis tidak bisa membayangkan seandainya kejadian yang lebih parah dan terpaksa harus tergolek tak berdaya.Tubuh lemah, napas sesak, mata nanar, tulang dan sendi kaku, semua terasa sakit. Tak ada gairah hidup sama sekali.

Dan dampaknya bila ini terjadi, kita pun tinggal menghitung waktu. Tergeletak tak bergerak. Di sebuah ruang yang bernama ICU, yang terdengar hanya suara desah detak- detik mesin pemacu jantung. Dokter dan perawat berseliweran. Selang menjuluri dan melilit sebagian besar tubuh; oksigen memacu jantung dan napas buatan, selang infus mengasup cairan makan dan minum si sakit. Diiringi isak tangis keluarga yang menjaganya.

*****

Tak terbayangkan dan dalam renungan diri ini. Akhirnya kita terbaring tak bergerak dikelilingi banyak pelayat; keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga, kerabat, sahabat, dan semua handai tolan. Mereka terisak dalam tangis duka mengulur doa, dan telantun gema pembacaan tahlil dan Yaasiin.

Air yang membasuh dan tersiram dalam tubuh terasa berbeda. Begitu juga dengan sabun serta pewangi aroma lainnya. Berulang kali guyuran air menerpa tubuh yang dibaringkan pada bilik kecil. Tubuh yang sudah tidak bergerak ini terus digosok, dibasuh, dan diguyur. Lalu, diangkat dan kemudian digeletakkan di tengah-tengah ruangan di atas dipan. Dililitkanlah berhelai-helai kain berwarna putih tanpa ada jahitan, diikat dan dipocong.

Tidak lama kemudian, sebuah keranda menjemput. Tubuh yang sudah terbungkus kafan ini dimasukkan. Dan kembali diletakkan, selanjutnya menunggu imam dan jama’ah yang kini telah berjejer membentuk shaf dan barisan shalat. Di masjid atau mushala, telinga ini masih jelas mendengar empat kali suara takbir dan isyhad, "Persaksikanlah bahwa si mayit ini min ahlil khair, orang yang baik, orang yang baik, orang yang baik!"

Subhanallah.Tubuh ini akhirnya dibawa dan digotong beramai-ramai menuju peristirahatan terakhir. Di sebuah galian 2 x 2 meter, beberapa keluarga kemudian meletakkannya di paling bawah menghadap kiblat; pocong dibuka, pipi kanan menempel tanah. Lalu, di tempat yang gelap dan sempit ini, tubuh ini diuruk dan dikubur. Papan nisan pun ditancapkan. Tertulis nama, kelahiran, dan sekaligus kewafatan si pemilik tubuh ini. Meninggalkan dunia yang penuh liku.

Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.Ternyata jalan menuju kematian itu sangat singkat. Semua yang bernyawa dan bertubuh pasti akan merasakan proses kematian. Siapa pun kita. Pejabat atau rakyat, guru, orang kaya atau dhuafa, TNI/Polri, jaksa, hakim, pengacara, termasuk juga ulama.

Sahabat tercinta sekalian. Untuk kesekian kalinya patutlah kita bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Tubuh masih kuat untuk bergerak. Hati dan pikiran masih bisa memberi respons positif demi kehidupan. Bisa menikmati beragam karunia-Nya tanpa keluhan berarti.

Padahal patut diketahui untuk dipahami. Hidup yang kita jalani bukan untuk hidup. Hidup bukan pula untuk mati. Justru hidup ini untuk yang Maha hidup. Dan mati itulah jalan untuk hidup. Hidup dalam keabadian di akhirat yang kekal kelak. Karenanya, jangan takut mati. Jangan cari mati. Jangan lupakan mati. Tapi rindukanlah mati.

Mengapa? Karena mati bukanlah wafat. Jasmaninya telah mati, tetapi ruh wafat. Al-mautu roohatul lilmu`miniin, mati adalah istirahatnya hamba-hamba yang beriman. Dan dengan mati inilah jalan satu-satunya pintu bisa berjumpa bersama-sama dengan hamba-hamba beriman, yaitu jalan berjumpa dengan Allah yang maha pemberi hidup.

Pesan mendalam dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, tidaklah kulihat kematian kecuali menuju pintu kebahagiaan. Lalu, siapkah kini kita menjemput kematian. Menjemput dan menghampiri sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sebelumnya?. Sekali lagi, jangan takut mati. Jangan cari mati. Jangan lupakan mati. Tapi rindukanlah mati.

Dan semoga pemilik tubuh ini, dan kita semua (khususnya) yang ada di grup ini diwafatkan dalam kondisi dan keadaan terindah yaitu membawa iman, dan dalam belaian kasih khusnul khatimah. Aamiin.

*) SLAMET YULIONO, Pembelajar - Aremania - ‘Nyantrik’ di SMP Negeri 1 Turen

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali